21 MeiMay 21st, 2009 @ 11:08 pm
Hari ini aku melihatnya duduk di kursi reyot itu, tatapannya kosong berkaca-kaca, ia terlihat begitu ringkih, kerutan di dahinya menggambarkan ia semakin renta, nafasnya pendek, perawakannya jauh dari kesan gagah, sesekali ia tertunduk, menahan emosi, tangis, berjuang menutupi/melawan emosi dan egonya.
Aku menghentikan langkahku, tertegun, berdiri disebrang jalan.
Sesaat.. Dia tersadar akan keberadaanku, dia menatapku meminta tolong, dengan sangat.
Aku menghampirinya…
Aku duduk disampingnya, kita mulai berbicara… Seperti yang ia minta aku duduk disampingnya, mendengarkan isi hatinya dengan suaranya yang sedikit bergetar, gugup, aku menatapnya dalam-dalam..
Dia terus berbicara, terus dan terus, aku mendengarkan.
Benakku berbicara: engkau tidak jujur, terkesan ditutup-tutupi, apa yang engkau tutupi? Sedalam apapun engkau menutupinya aku tetap bisa merasakan kepedihanmu, kegalauanmu, kegundahan hatimu, kesengsaraanmu, dan penyesalanmu.
Aku tersadar… Dia menatapku…
Dia menatapku dengan seribu duka.. Dia berbicara.. Aku sudah selesai.. Terimakasih telah bersedia meluangkan waktu untuk mendengarkan ku…
Hatiku perih mendengarnya…
Aku menangis…
6 Comments
life
